Alor, Nusa Tenggara Timur

Ini tempat bagi mereka yang berjiwa petualang. Berada di timur Nusa Tenggara Timur, Kepulauan Alor adalah surga bagi mereka yang menggemari penyelaman berarus. Bila lokasi berarus lain biasanya memiliki visibility rendah, tidak demikian dengan lokasi penyelaman di kepulauan ini. Berarus namun jernih, impian bagi para penyelam berpengalaman. Sejumlah satwa kharismatik seperti whale shark, penyu, dugong (hanya untuk jumlah penyelam terbatas), dan kawanan ikan kerapu dan ikan pelagis dapat dijumpai saat menyelam. Bagi mereka yang menyukai fotografi makro, siapkan kamera untuk membidik kelinci laut dan kuda laut beraneka warna di terumbu karang Kepulauan Alor.

Arus tidak hanya membawa kebahagiaan bagi para penyelam. Ia juga membawa nutrisi yang dibutuhkan oleh rumput laut. Makroalga yang tumbuh menempel di substrat ini banyak diusahakan oleh masyarakat di Alor. Teknologi yang relatif sederhana dan tidak membutuhkan modal besar menjadikan budi daya rumput laut pilihan bagi masyarakat di sejumlah desa dampingan WWF-Indonesia dan Forum Rumput Laut Alor (FoRLa Alor).

Resapi kehidupan masyarakat pembudidaya rumput laut di Desa Aimoli di Pulau Alor. Bila anda dalam perjalanan menuju Gunung Sirung, mampirlah ke Wolu dan Desa Kayang di Pulau Pantar atau menyeberang sedikit ke Pulau Kangge. Berjalanlah di pagi atau sore hari saat laut surut dan anda akan mendapati mama-mama yang sedang memasang tali yang telah dipasang bibit rumput laut ke patok. Tidak usah segan menawarkan diri untuk membantu, para mama akan menyambut anda dengan senyum bibir merah karena pinang mereka.

Selain sebagai bahan makanan dan komponen dasar industri, rumput laut memiliki banyak manfaat seperti pewarna kain tenun ikat khas Alor. Warna kuning, coklat dan biru bisa dihasilkan dari rumput laut jenis Kappaphycus alvarezii (nama lokalnya katoni) atau Kappaphycus striatum (sacol). Datanglah ke lokasi pembuatan tenun milik Mama Sariat, penggerak tenun yang dijuluki profesor warna alam. Sambil duduk menikmati kopi dan jagung yang dimasak seperti pop corn, Mama Sariat akan bercerita tentang ratusan bahan alami yang bisa ia ramu menjadi pewarna alami.

Tenun ikat khas alor biasanya memiliki motif kenari, karena pulau ini memang dijuluki “Pulau Kenari”, selain itu motif satwa laut seperti ikan dan cumi-cumi juga banyak ditemui. Bila penasaran mencoba memakai tenun tradisional, mampirlah ke Desa Adat Takpala. Lokasi ini didiami oleh Suku Abui yang dalam Bahasa Alor berarti orang gunung. Sebagai buah tangan, anda bisa membawa sirih, pinang dan kapur kegemaran Suku Abui. Waktu yang paling tepat untuk berkunjung adalah bulan Juni atau Juli, saat masyarakat hendak membuka ladang. Mereka akan mengadakan serangkaian ritual dan menari lego-lego. Pada upacara ini, kedua rumah simbol utama yang tidak ditinggali akan dibuka.

Setelah puas menikmati keindahan Alor saatnya anda memberi kembali pada alam. Bila ingin membantu rehabilitasi pesisir Alor, anda bisa datang ke kelompok “Cinta Persahabatan” di Kabola. Di lokasi ini anda bisa mendengar Mama Martha—salah seorang wanita pejuang konservasi mangrove di Alor—dan anggota kelompok bercerita mengenai mangrove serta melihat lokasi bedeng pembibitan mereka. Mangrove tersebut juga bisa anda adopsi dan tanam di lokasi yang tidak jauh dari lokasi.Beberapa penginapan di Alor saat ini sedang menjajagi kerjasama adopsi mangrove dengan kelompok Cinta Persahabatan.Tanyakan ke tempat anda menginap apakah mereka memiliki paket adopsi mangrove. Hanya dengan bertanya, anda membantu mendorong pemilik penginapan untuk terus menjalin kerjasama dengan para pelestari hutan mangrove di Alor!

Bila ingin pengalaman yang lebih asli, mampirlah ke Pulau Sika. Anda bisa tidur di lopo kayu sambil menikmati kondisinya yang tenang dan jauh dari keramaian. Lokasi ekosistem mangrove di pulau ini pun dipelihara dengan baik.

Saat ini Jelajah Biru membuka private trip ke Alor bagi mereka yang ingin menikmati keindahan alam serta berkontribusi kembali ke masyarakat.Karena perjalanan yang cukup memakan waktu, setidaknya dibutuhkan 7 hari untuk berwisata di Alor. Perlu diingat sebagaian lokasi di Alor mengalami kesulitan air, berhematlah sebisa mungkin.

Basic itinerary mencakup:

  • Mengunjungi Pulau Sika dan beraktifitas bersama nelayan dampingan WWF-Indonesia
  • Wisata rumput laut bersama masyarakat dampingan Forum Rumput Laut Alor
  • Mengenal dan merehabilitasi ekosistem mangrove bersama kelompok Cinta Persahabatan
  • Kunjungan ke Desa Takpala
  • Trekking di Desa Adat Bampalola dengan pemandangan pulau-pulau kecil yang terlihat dari atas bukit.

Aktivitas lain yang tidak kalah menarik

  • Menginap di Eco-lodge Pulau Kepa
  • Menyelam di lokasi sejumlah penyelaman terbaik di Indonesia (hanya untuk penyelam berpengalaman)
  • Mendaki Gunung Sirung

Setiap paket Jelajah Biru dibuat berdasarkan karakter dan jumlah peserta. Jangan ragu menghubungi tim kami di 0812 1010 1404 agar kami bisa membantu anda #travelwithrespect ke Alor