Refleksi Implementasi PES di Perairan Pulau Koon

Oleh : Hery Davidson P. Siahaan

Sistem pembiayaan jasa lingkungan yang dikenal dengan istilah PES (Payment for Ecosystem Services) sudah diterapkan oleh Lembaga Adat Wanu Atalo’a sejak 18 November 2015. PES ini diberlakukan kepada liveaboard atau kapal rekreasi yang akan melakukan aktivitas penyelaman di wilayah perairan Koon. Dalam mekanisme pembayaran PES ini, LEAWANA dibantu oleh PT. Samudera Ekowisata Indonesia (PT. SEI) untuk memfasilitasi pembayaran PES dari pihak liveaboard kepada LEAWANA. 

Hingga saat ini, pemberlakuan PES di perairan Koon telah berlangsung selama 3 tahun. Sebagai refleksi implementasi PES tersebut, pada tanggal 12 September 2018 dilakukan pertemuan di Biz Hotel, Kota Ambon. Pertemuan tersebut dihadiri oleh Bapak Anzar Zulkarnaen Rumarey Wattimena selaku Ketua LEAWANA, Ibu Fatiyah Suryani Mile sebagai Ketua JANGKAR, beberapa anggota JANGKAR, PT. SEI, dan juga WWF-Indonesia sebagai mitra pelaksana USAID SEA Project menjadi fasilitator kegiatan ini.

Refleksi Implementasi PES di Perairan Pulau Koon

Dalam pertemuan tersebut, WWF Indonesia terlebih dahulu memaparkan tentang pentingnya melakukan perlindungan Pulau Koon serta latar belakang inisiasi PES di Petuanan Kataloka. PT. SEI juga memaparkan hasil survey kuisioner yang dibagikan kepada liveaboard beberapa waktu sebelumnya. Kemudian, Ketua LEAWANA memaparkan penggunaan dana PES yang sudah dibayarkan liveaboard kepada LEAWANA. Menurut penjelasan Bapak Anzar, dana PES yang telah dibayarkan telah digunakan untuk beberapa hal yaitu, pembangunan pos jaga patroli di Pulau Koon, pemberian beasiswa kepada salah satu putra Kataloka, kegiatan kemasyarakatan (bersih lingkungan), pengelolaan tempat wisata di Pulau Gorom, penguatan seni dan budaya.

Menurut pendapat anggota JANGKAR, semua pihak dalam pelaksanaan PES saat ini sudah menjalankan fungsinya dengan baik, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa ke depannya akan lebih baik lagi. Seperti saran dari Ibu Yayu Yuniar, pemilik kapal Pearl of Papua, “Ke depannya bisa menerapkan birokrasi satu pintu dimana JANGKAR akan terhubung langsung dengan LEAWANA agar proses pembayaran jasa lingkungan dilakukan dengan cara yang mudah dan efisien, sehingga tidak terjadi bolak balik pengurusan administrasi.”

Terkait dasar hukum adanya pembiayaan jasa lingkungan tersebut, menurut anggota JANGKAR sudah cukup kuat dengan adanya peraturan dari adat. “Kami sangat mendukung penuh untuk pengelolaan perairan Koon berbasis adat,” kata Ibu Yani sekalu Ketua Jangkar. “Oleh karena itu kami berharap, Pemerintah Provinsi Maluku untuk segera menetapkan bahwa wilayah Koon itu adalah wilayah masyarakat adat,” tambahnya.

Di sela-sela diskusi, Ketua LEAWANA sempat menawarkan liveaboard untuk  singgah di pulau terdekat untuk sekedar bercengkrama dengan masyarakat kataloka. Tawaran tersebut disambut baik oleh para pemilik kapal liveaboard. “Kami sangat bersedia untuk singgah di ke pemukiman, apalagi kalau di situ ada sesuatu yang menjual seperti kesenian dan kebudayaannya. Dan ciri khas kapal kami adalah selalu mampir ke pemukiman terdekat tempat kami lego jangkar, untuk sekedar kulonuwun dengan masyarakat lokal. Itu ciri khas kapal saya’’, ujar Ibu Rani selaku pemilik kapal Kurabesi. “Saya sendiri pernah kagum ketika bertemu dengan giant grouper saat menyelam di Koon, karena ukurannya sangat besar. Meskipun saat ini hanya ada satu spot untuk kami menyelam, tapi kami akan sangat mendukung kegiatan konservasi, apalagi ini terkait food security, dimana Maluku dikenal sebagai Lumbung Ikan Nasional. Tentu kami selaku JANGKAR akan sangat bangga bisa berpartisipasi di dalamnya” kata Ibu Yani.

Sebagai lembaga adat yang mengelola langsung kawasan tersebut, LEAWANA sangat berterimakasih atas kepedulian para pemilik liveaboard khususnya anggota JANGKAR yang sudah ikut membantu dalam membayar jasa lingkungan di perairan Koon. Di akhir diskusi, Ibu Yani mengatakan bahwa beliau sangat mengapresiasi dengan apa yang telah dilakukan oleh LEAWANA dalam upaya konservasi di perairan Koon, serta merasa bangga karena liveaboard yang bergabung dengan JANGKAR ikut serta dalam mendukung gerakan konservasi di perairan Koon. “Kami selaku anggota JANGKAR sangat mendukung jika tujuan LEAWANA adalah untuk kegiatan konservasi”.

Leawana

Lembaga Adat Wanuatalo'a dari Petuanan Kataloka, Seram Bagian Timur