Pelestarian Mangrove Dusun Samboru

“Menjaga, melindungi, dan melestarikan adat  istiadat beserta kekayaan alam yang ada di laut maupun di darat  Negeri Kataloka”.

Kalimat  tersebut Pak Ucu tegaskan ketika kami bertanya mengapa beliau melestarikan mangrove di pesisir Dusun Samboru. Pria kelahiran 1940 ini menjadi pemerhati mangrove sejak tahun 1995. Beberapa saat lalu, tim WWF site Koon bersama dengan Pak Ucu melakukan kegiatan kebersihan pada ekosistem mangrove yang bertempat di Dusun Samboru. Sambil menunggu air laut Pak Ucu menceritakan ulang kisahnya selama menjaga lokasi mangrove tersebut. Air sudah turun, bermodalkan gunting, pisau dan karung kami menuju ke rumah kedua Pak Ucu, lokasi mangrove di Dusun Samboru. Langkah demi langkah kami menyusuri lokasi tersebut. Dari pohon ke pohon kami membersihkan setiap sampah yang menempel serta menyelamatkan anakan mangrove dari dahan dan ranting-ranting kering yang menimpa. Terlihat jelas ketulusan mereka memperlakukan setiap batang pohon mangrove. “Saya nyaman disini, ini rumah kedua saya. Harus saya jaga”. Tegas Pak Ucu ketika saya bertanya mengapa mau merawat mangrove tanpa imbalan. “Saya berpikir mangrove itu penting, jadi harus saya jaga. Semoga ada orang lain yang berpikir seperti saya, dan berharap pemerintah dapat melihat hal ini”, sambung Pak Ucu tersenyum sembari menunjuk Rhizophora yang berbuah. Harapan baru pikirnya.

Pelestarian mangrove Dusun Samboru

Terdapat 2 jenis mangrove yang berada di loaksi tersebut, yakni Avicennia  dan Rhizophora.  Warga lokal biasa menyebutnya dengan sebutan mangi-mangi dan tongki. Langkah demi langkah kami menyusuri dan membersihkan lokasi mangrove. Jenis sampah yang banyak kami temukan yaitu senar pancing, tali plastik, popok bayi, dan kantong plastik. Kadang juga menemukan beberapa potong pakaian bekas. Sampah-sampah tersebut kami kumpulkan di dalam karung bekas dan  meletakkannya di darat sembari menunggu kering untuk kemudian dibakar.

Adzan magrib berkumandang tanda malam akan segera tiba, Pak Ucu mengajak kami pulang. “Mari sudah nak, kita lanjut kalau nak ada waktu” ucap Pak Ucu sembari membilas tangannya di kubangan air. Kamipun berjalan menuju rumah Pak Ucu, setibanya di rumah kami disambut dengan pisang goreng dan teh panas buatan istri Pak Ucu. Sembari menikmati hidangan saya mengingat kata-kata Pak Ucu Saya berpikir mangrove itu penting, jadi harus saya jaga. Semoga ada orang lain yang berpikir seperti saya, dan berharap pemerintah dapat melihat hal ini”.

 

Jelajah Biru

Selalu ada hal baru di Indonesia yang bisa dijelajah. Baik alam maupun budayanya mampu mengundang siapapun yang ingin mencari keindahan, pengetahuan dan pengalaman baru.

Instagram